Opa (Bang) Ali dan Kebaikan Hatinya…
May 20th, 2008 by cichaBelom lama ini, ayah saya nelpon ke mama saya..
“Im, bang Ali meninggal,” ujar Ayah saya yang juga tokoh petisi 50 bersama bang Ali, diseberang sana.
“Astaghfirullah Aladzim, innalillahi..,” sontak mama saya. “Buuu.. ibuuu, Oom Ali meninggal!!,” teriak mama saya ke oma saya yang juga kakak ipar Bang Ali..
Air mata histeris tak habis keluar dari mata oma saya yang sudah berumur 84 tahun itu. Sesenggukan. Telepon rumah pun jadi sibuk, telpon sini, telpon sana, mengabari kabar duka ini.
Saya sendiri ikutan sedih. Bukannya apa, walau ketemu hanya 2 tahun sekali (saat lebaran dan saat beliau ulang tahun), tapi kebaikan hatinya selalu saya ingat. Kalau ketemu Ayah saya, dia selalu nanya, “anakmu si Cicha gimana?” Bukannya apa-apa, saya ini memang cucu kesayangan kakaknya, alm. Oesman Sadikin. Kemana-mana saya dulu dieteng-eteng sang almarhum, mungkin dibangga-banggakan. Entah.
Oma saya jelas kehilangan. Sosok bang Ali ini memang selalu memikirkan keluarga, tak hanya keluarga dekat, keluarga jauh pun beliau pikirkan. Bayangkan, dari almarhum opa saya yang juga kakak Beliau, Oesman Sadikin, meninggal tahun 1996 lalu, oma saya yang notabene hanya ‘mantan’ kakak iparnya, sampai detik ini masih diberi uang belanja bulanan. Dan terakhir, operasi katarak oma saya juga dibiayai penuh oleh beliau.. Tak hanya ke oma saya, ke kakak-kakaknya ‘mantan-mantan’ iparnya semua beliau selalu begitu.
Yah, berkurang 1 tempat persinggahan lebaran kita sekeluarga. Biasanya, setiap tahun, rumah beliau di Pasar Minggu selalu menjadi tempat silaturahmi pertama. Santapan disana yang memang luar biasa nikmat, yang bikin saya kangen setiap tahun adalah Lidah Mentega nya. Kami sekeluarga menyebutnya menyebutnya “lidah opa ali” (bukan arti sebenarnya).
Bukan sekedar lidah mentega-nya yang ngangenin, tapi jelas kami sekeluarga ikutan berduka. Selamat jalan opa Ali.. Kami yakin, Allah sudah menyediakan tempat terbaik untuk hatimu yang mulia.. Amiin..